Sudahkah Kepala Sekolahmu Mengerti Manajemen Berbasis sekolah??

Perlu diketahui bahwa manajemen berbasis sekolah sangat penting bagi kemajuan sebuah sekolah, namun tidak semua kepala sekolah di Indonesia mengerti tentang Manajemen Berbasis sekolah, mungkin kebanyakan telah mengerti namun belum dipahami dan belum diterapkan secara keseluruhan. kepala sekolah yang demikian biasanya mengambil kebijakan atas dasar keinginannya sendiri  atau mungkin hanya disetujui oleh sebagian stakeholder sekolah. terdapat pula kepala sekolah yang selalu melibatkan seluruh stakeholder dalam melakukan sebuah tindakan untuk meningkatkan kualitas sekolah, kepala sekolah yang demikian akan membuat keadaanya semakin cepat maju dan dapat mencapai visi sekolah karena seluruh kegiatannya berdasarkan keinginan stakeholder sehingga stakeholder juga merasa turut memiliki tanggung jawab untuk melaksanakannya

Bagaimana Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)???

Semakin lama masyarakat semakin sadar akan pentingnya pendidikan sebagai bekal dalam menghadapi era globalisasi yang begitu rumit dan serba canggih. Berdasarkan hal tersebut, sekola dituntut untuk dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Bahkan ketika terdapat sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, masyarakat akan sangat antusias untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah tersebut, bahkan masyarakat akan turut serta memberikan sumbangan berupa pikiran maupun finansial untuk sekolah.

Menurut Sri Minarti (2011:76)  Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah “pemberian otonom yang lebih luas kepada sekolah  dengan tujuan akhirnya meningkatkan mutu hasil penyelenggaraan pendidikan sehingga menghasilkan prestasi yang sebenarnya melalui proses manajerial yang mapan melalui peningkatan kinerja dan partisipasi semua stakeholdernya, sekolah pada semua jenjang dan semua jenis pendidikan dengan sifat otonomistiknya tersebut akan menjadi suatu intitusi pendidikan yang organic, demokratik, kreatif, dan inovatif serta unik dengan ciri khasnya untuk melakukan pembaruan sendiri”.

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Menurut Wholstetter dan Mohrman dalam Sri Minarti (2011:70), menyatakan bahwa terdapat 4 sumber daya yang harus didesentralisasikan yang pada hakikatnya merupakan inti dari Manajemen Berbasis Sekolah, yaitu, power/authority, knowledge, information, reward. Keempatnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dan menuntut kehadirannya, antara lain sebagai berikut.

  1. Kekuasaan/ kewenangan harus didesentralisasikan ke sekolah secara langsung, yaitu melalui dewan sekolah
  2. Pengetahuan juga harus di desentralisasikan sehingga sumber daya manusia disekolah mampu meberikan kontribusi yang berarti bagi kinerja sekolah.
  3. Hakikat lain yang harus didesentralisasikan adalah informasi. Pada model sentralistik, informasi hanya dimiliki oleh tingkat pusat, sedangkan pada manajemen Sumber Daya Manusia informasi harus sampai pada tingkat bawah.
  4. Penghargaan adalah hal penting yang harus didesentralisasikan. Penghargaan bisa berupa fisik maupun non-fisik yang semuanya didasarkan atas prestasi kerja.

Berdasarkan aspek tersebut, maka manfaat yang dapat diambil dari Manajemen Berbasis sekolah adalah sekolah dapat mengelola sumber daya yang dimilikinya dengan leluasa yang disesuaikan dengan keinginan masyarakat setempat sehingga sekolah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, selain itu, masyarakat memiliki kesempatan untuk turut serta terlibat dalam pengelolaan sekolah sehingga masayarakat memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap sekolah yang berpengaruh pada peningkatan mutu sekolah.

Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Menurut Wholstetter dan Mohrman dalam Sri Minarti (2011:70), menyatakan bahwa terdapat 4 sumber daya yang harus didesentralisasikan yang pada hakikatnya merupakan inti dari Manajemen Berbasis Sekolah, yaitu, power/authority, knowledge, information, reward. Keempatnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dan menuntut kehadirannya, antara lain sebagai berikut.

  1. Kekuasaan/ kewenangan harus didesentralisasikan ke sekolah secara langsung, yaitu melalui dewan sekolah
  2. Pengetahuan juga harus di desentralisasikan sehingga sumber daya manusia disekolah mampu meberikan kontribusi yang berarti bagi kinerja sekolah.
  3. Hakikat lain yang harus didesentralisasikan adalah informasi. Pada model sentralistik, informasi hanya dimiliki oleh tingkat pusat, sedangkan pada manajemen Sumber Daya Manusia informasi harus sampai pada tingkat bawah.
  4. Penghargaan adalah hal penting yang harus didesentralisasikan. Penghargaan bisa berupa fisik maupun non-fisik yang semuanya didasarkan atas prestasi kerja.

Berdasarkan aspek tersebut, maka manfaat yang dapat diambil dari Manajemen Berbasis sekolah adalah sekolah dapat mengelola sumber daya yang dimilikinya dengan leluasa yang disesuaikan dengan keinginan masyarakat setempat sehingga sekolah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, selain itu, masyarakat memiliki kesempatan untuk turut serta terlibat dalam pengelolaan sekolah sehingga masayarakat memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap sekolah yang berpengaruh pada peningkatan mutu sekolah.

Apa Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)????

Menurut Kustini Hardi dalam Sri Minarti (2011:69), ada tiga tujuan diterapkannya manajemen berbasis sekolah (MBS) yaitu:

  1. Mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru dan unsur komite sekolah dalam aspek Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untuk meningkatkan mutu sekolah
  2. Mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru dan unsur komite sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, baik disekolah maupun dilingkungan masyarakat setempat.
  3. Mengembangkan peran serta masyarakat yang lebih aktif dalam masalah umum persekolahan dan unsur komite sekolah dalam membantu peningkatan mutu sekolah

Adapun menurut E. Mulyasa dalam Sri Minarti (2011:69), Implementasi Manajemen Berbasis sekolah (MBS) ini bertujuan:

“peningkatan efisiensi antara lain diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi, peningkatan mutu pendidikan dapat diperoleh melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas, berlakunya sistem insentif dan disensitif, peningkatan pemerataan pendidikan antara  lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih  berkonsentrasi pada kelompok tertentu. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah.

Sejalan dengan ini, Sri Minarti (2011:70) menyatakan bahwa tujuan Manajemen Berbasis sekolah peningkatan mutu pendidikan yakni dengan mendirikan sekolah untuk mengelola lembaga bersama pihak-pihak terkait (guru, peserta didik, masyarakat, wali murid dan instansi lain) sehingga sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu instruksi  dari atas dalam mengambil langkah-langkah untuk memajukan pendidikan.  Mereka dapat mengembangkan visi pendidikan suatu keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan manajemen berbasis sekolah adalah

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa tujuan manajemen Berbasis sekolah adalah menciptakan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, sekolah didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekolah juga diatur oleh masyarakat setempat. Dimana peran serta masyarakat sangat diandalkan dalam pencapaian visi sekolah.

Apa pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)?

Menurut Eman Suparman, seperti yang dikutip oleh Mulyono dalam Sri Minarti (2011:50) mendefinisikan bahwa Manajemen Berbasis sekolah (MBS) adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan sekolah dalam pendidikan nasional.

Menurut Ahmad Barizi dalam Sri Minarti (2011:52) Manajemen berbasis sekolah merupakan bentuk alternatif sekolah dalam melakukan program desentralisasi dibidang pendidikan yang ditandai dengan otonomi yang luas ditingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi tanpa mengabaikan kebijakan pendidikan nasional.

Manajemen Berbasis Sekolah  merupakan suatu program pemerintah berkaitan dengan adanya asas desentralisasi maka muncullah otonomi pendidikan.  Dimana sekolah diberikan kewenangan untuk mengelola sekolahnya sendiri tanpa meninggalakan kebijakan-kebijakan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Adapun standar yang ditetapkan oleh pusat meliputi standar kompetensi siswa, standar materi pelajaran pokok, standar penguasaan minimum, stamdar pelayanan minimum, standar pelayanan minimum, penetapan kalender pendidikan, dll.

Adanya otonomi pendidikan menuntut partisipasi dan pemberdayaan seluruh komponen pendidikan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan. School Based Management (Manajemen Sumber Daya Manusia) adalah merupakan suatu pendekatan dalam peningkatan mutu pendidikan melalui kebijakan otonomi daerah.